Minggu, 08 Agustus 2010

 IDEALNYA PEMIMPIN DALAM SUATU ORGANISASI

Pendahuluan
          
Pemimpin merupakan kepercayaan yang diberikan kepada seseorang untuk memberikan komando atau arahan kepada orang-orang yang telah memberikan kepercayaan untuk mencapai tujuan tertentu, dengan harapan pemberi kepercayaan tersebut akan lebih baik nasibnya dibandingkan dari kepemimpinan sebelumnya.
           
Peran pemimpin dalam suatu organisasi secara mikro dapat mempengaruhi moral, kepuasan kerja dan kwalitas kehidupan kerja para bawahan, yang pada akhirnya keberhasilan bawahan ini secara makro akan mempengaruhi tingkat prestasi organisasi. Sebab perilaku organisasi sangat dipengaruhi oleh perilaku setiap individu yang ada dalam organisasi tersebut.
          
Namun kenyataanya, dalam memimpin suatu organisasi atau kelompok, seorang pemimpin sering menyalahgunakan kewenangannnya dalam menjalankan suatu organisasi.  Sebagai “decision maker “. Pemimpin cenderung melakukan praktik semena-mena dalam mengambil suatu keputusan. Pengaruh “like and dislike” selalu menjadi ukuran dalam memberdayakan seseorang. Kondisi seperti ini selalu terjadi pada instansi pemerintah yang sarat akan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Sehingga banyak bawahan atau staf yang menjadi bermuka dua atau suka mencari perhatian atasannya dalam arti yang “negatif”, yang terpikir olehnya adalah bagaimana “Asal Bapak Senang (ABS)”. Lalu bagaimana sebenarnya tipe pemimpin yang ideal dalam suatu organisasi ?

Pemimpin dan Kepemimpinan

          
Pemimpin serta kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Dalam praktek sehari-hari antara pemimpin dan kepemimpinan sering diartikan sama, padahal keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Pemimpin adalah orang yang tugasnya memimpin, sedangkan kepemimpinan adalah bakat atau sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.             Jadi, seorang pimpinan harus memiliki bakat kepemimpinan dalam mendukung tugasnya. Pemimpin dalam melaksanakan tugasnya dapat mengerahkan kemampuan manajerial (Manajerial Skill) maupun kemampuan teknis (Teknical Skill) secara aktif untuk mempengaruhi pihak lain dalam rangka pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin dengan kekuasaan yang dimilikinya dapat mempengaruhi seseorang untuk mau melakukan sesuatu yang diinginkannya. Tentunya, hal ini lah yang sering menimbulkan kesan negative dari seorang pemimpin.
          
Pemimpin merupakan figur sentral yang dapat mempersatukan kelompok-kelompok untuk dapat saling berinteraksi dan mengadakan kerjasama untuk pencapaian tujuan organisasi. Dengan kemampuan yang dimilikinya, akan dengan mudah mengkolaborasikan keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam suatu kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
          
Menurut Siagian (1994), bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin yang efektif apabila secara genetika telah memiliki bakat kepemimpinan dan bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk menduduki jabatan kepemimpinannya, serta kemampuan tersebut dapat ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang menyangkut teori kepemimpinan.

Tipe Kepemimpinan
Dalam suatu organisasi ada beberapa tipe-tipe pemimpin yang dimiliki seseorang yang dapat mempengaruhinya dalam menjalankan organisasi, antara lain sebagai berikut :
  • Tipe Otokratik
Seorang pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan otokratik dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Hal ini dilihat dari sifatnya dalam menjalankan kepemimpinannya sangat egois dan otoriter, sehingga kesan yang dimunculkan dalam karakter tipe kepemimpinan ini selalu menonjolkan “keakuannya”. 
  •  Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik ini bersifat kebapaan yang mengembangkan sikap kebersamaan. Salah satu ciri utamanya sebagaimana yang digambarkan masyarakat tradisional yaitu rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini menunjukkan ketauladan dan menjadi panutan di masyarakat. Biasanya tipe seperti ini dimiliki oleh tokoh-tokoh adat, para ulama dan guru.
  • Tipe Kharismatik
Karakteristik yang khas dari tipe ini yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
  • Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
  • Tipe Demokratik
Pemimpin yang demokratik biasanya memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia. Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti.

Dari kelima tipe kepemimpinan diatas, masing-masing tipe memiliki kelebihan dan kelemahannya. Untuk penempatan tipe tersebut tergantung pada organisasi yang akan di pimpin. Misalnya untuk organisasi kemiliteran diperlukan tipe kepemimpinan yang otoriter, sebab pada organisasi tersebut dibutuhkan kesatuan komando dalam pengambilan keputusan. Sehingga senang atau tidak senang, semua anggota organisasi didalamnya harus melaksanakan perintah dari atasan. Jadi, dalam menentukan tipe kepemimpinan yang akan diterapkan oleh seorang pemimpin harus disesuaikan dengan jenis organisasi yang akan dipimpin.

Ciri-ciri Pemimpin dan Kepemimpinan  Yang Baik

Sebagai seorang pemimpin yang mengingikan kemajuan bagi anggota dan organisasi yang dipimpinnya, hendaknya seorang pemimpin harus memiliki :
  1. Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis. 
  2. Kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dalam memajukan organisasi.
  3. Sikap yang intuitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.
  4. Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan adalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.
  5. Daya ingat yang kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.
  6. Kapasitas integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.
  7. Ketrampilan berkomunikasi secara efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain : fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.
  8. Keterampilan Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.
  9. Rasionalitas, semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir. Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.
  10. Objektivitas, pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan penasehat bagi para bawahannya.  Salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.
  11. Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua, menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.
  12. Kemampuan Menentukan Prioritas, dengan membedakan hal yang Urgen dan yang Penting
  13. Naluri yang Tepat, kemampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
  14. Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, ketertarikan satu sama lain.
  15. Rasa Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.
  16. Keteladanan, seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
  17. Menjadi Pendengar yang Baik, tidak terlalu cepat memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
  18. Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisional, temporal dan spatial.
  19. Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.
  20. Ketegasan, keberanian, orientasi masa depan serta sikap yang antisipatif dan proaktif.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa untuk efektifitasnya suatu organisasi, seorang pemimpin hendaknya memiliki ciri tersebut. Selain itu kemampuan dalam berkomunikasi juga sangat dibutuhkan. Sebab dalam menjalankan suatu organisasi akan terjalin interaksi antara orang-orang yang berada di dalam maupun diluar organisasi. Untuk itu hubungan vertikal antara  pimpinan dan bawahan dan hubungan horizontal antara sesama rekan sejawat harus dipelihara diantara keduanya agar kerjasama dapat berjalan dengan baik.

Penutup
          
Kepemimpinan merupakan bakat yang dimiliki seseorang sejak lahir, namun kepemimpinan tersebut juga dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman yang telah dilaluinya. Sedangkan pemimpin adalah orang yang mendapat kepercayaan  untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab tertentu dalam suatu organisasi atau kelompok. Bagaimana cara seseorang dalam memimpin suatu organisasi tergantung pada tiga factor, yakni: sifat, karakter dan lingkungan disekitarnya. Sebab ke tiga faktor tersebutlah yang sangat dominan dalam menentukan tipe kepemimpinan seseorang. Dalam memajukan suatu organisasi ada beberapa ciri-ciri pemimpin yang baik yang dapat diterapkan oleh seorang pemimpin. Namun yang paling terpenting dalam menjalankan suatu organisasi adalah kemampuaan manajerial yang harus dimilikinya agar bawahan dapat melaksanakan dan mau mengerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya sebagai bawahan. Dan idealnya seorang pemimpin harus mampu melakukan komunikasi yang efektif antara bawahan dan atasan begitu juga sebaliknya.
          
Tetapi yang menjadi catatan bagi penulis adalah bahwa tidak semua orang dapat menjadi  pemimpin pada satu organisasi tertentu, karena suatu organisasi membutuhkan karakter serta sifat yang berbeda-beda. Artinya penentuan figur pemimpin yang tepat dalam suatu organisasi, tergantung kepada kebutuhan organisasi itu sendiri.

Rabu, 21 Juli 2010

TEKNIK MEMIMPIN ORGANISASI

 

Jika anda ingin berhasil memimpin organisasi, anda perlu membaca isi tulisan ini dan melatihnya dalam praktek sehingga anda menjadi pemimpin yang sungguh-sungguh didukung oleh masyarakat anggota organisasi anda dan melancarkan tercapainya tujuan/sasaran organisasi anda, baik bidang politik, sosial, usaha dagang dll.
Tulisan ini adalah saripati pengalaman pribadi maupun pengalaman observasi berbagai kepengurusan bermacam-macam organisasi di Jakarta, mulai dari organisasi RT/RW, Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD), organisasi Paranormal, Politik, ORARI hingga organisasi sosial seperti Lions Club dan berbagai perusahaan di Jakarta.

BAB I : FUNGSI ORGANISASI
Setiap organisasi senantiasa berfungsi sbb :
  1. Menetapkan tujuan/sasaran yang ingin dicapai dalam waktu yang telah ditentukan terlebih dahulu.
  2. Berdasarkan tujuan/sasaran, ditetapkan bentuk organisasinya.
  3. Menetapkan kriteria orang-orang yang akan ditetapkan/dipilih untuk menduduki jabatan tertentu dalam organisasi
  4. Organisasi menjadi tempat untuk penggodokan calon pemimpin (leader selection/leidersselectie)
  5. Organisasi menjadi ajang pertarungan wawasan dan gagasan, sehingga memperoleh yang terbaik untuk jangka waktu tertentu.
Fungsi organisasi di atas sebaiknya dimasukkan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Program Kerja organisasi yang merangkum kesemua fungsi tsb.

Penjelasan Titik 1 bab 1
Sebuah org. (organisasi) apapun harus memilih sasaran/tujuan yang jelas sebelum bergerak/bekerja.
Tujuan/sasaran itu ditetapkan dalam jangka waktu tertentu, sehingga hasilnya dapat dievaluasi setelah beberapa tahun berjalan. Perubahan sasaran bisa terjadi dalam arti perubahan taktik maupun perubahan strategi untuk mencapainya, tergantung dari keadaan yang bisa saja terjadi secara mendadak, di luar hasil antisipasi. Bahkan perubahan sasaran secara menyeluruhpun masih dapat terjadi!

Penjelasan Titik 2 bab 1
Bentuk organisasi harus menyesuaikan diri dengan tujuan/sasaran yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu. Bentuk ini tidak hanya disesuaikan dengan dengan perundang-undangan yang berlaku, tetapi juga berkaitan dengan ‘ruang gerak’ yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Penjelasan Titik 3 bab 1
Setelah memiliki konsep yang jelas mengenai tujuan dan bentuk organisasi, anda perlu menetapkan kriteria calon pejabat yang akan memimpin gerak langkah organisasi.
Secara garis besar ada 4 tipe pemimpin yang berdasarkan pada :
1. Kharisma 2. Formalitas 3. Tradisi 4. Profesionalisme

* Ciri-ciri pemimpin berdasarkan kharisma adalah : berwibawa, disegani (bukan ditakuti !), mudah dipercaya, pandai mudah bergaul dll. Pada prinsipnya menyenangkan banyak orang dan punya prinsip yang jelas.

* Pemimpin berdasarkan formalitas adalah pemimpin yang ditaati karena jabatannya. Bisa saja pejabat dari organisasi apapun ditaati, tetapi sesungguhnya belum tentu diterima oleh ‘hati’ yang terdalam.

* Pemimpin berdasarkan tradisi biasanya tumbuh dari proses kebudayaan, seperti pastor, pendeta, pimpinan pesantren dll.

* Sesuai perkembangan jaman, maka dapat saya tambahkan tipe pemimpin yang berdasarkan profesionalisme, yang ditaati karena profesi yang diperolehnya dari dunia pendidikan formal maupun dari pengalaman hidupnya (autodidactic/ berpengalaman).

Di dalam kehidupan bermasyarakat kita jumpai pemimpin yang memiliki berbagai “campuran tipe pemimpin”. Ada yang memang memiliki kharisma tetapi juga menduduki jabatan tinggi (formal).
Ada pula yang sesungguhnya tidak disukai (tanpa karisma), tetapi ditaati karena jabatannya.
Berdasarkan perkembangan jaman, maka tipe pemimpin yang paling ideal adalah yang memiliki KHARISMA dan PROFESIONALISME serta jujur terhadap dirinya sendiri dan jujur kepada seluruh anggota organisasinya !

Penjelasan Titik 4 bab 1
Organisasi yang berjalan dengan baik adalah tempat orang yang berbakat memimpin diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya sehingga menjadi pemimpin masa depan. Dengan kata lain, setiap organisasi yang baik menciptakan suasana untuk membentuk kader pimpinan masa depan organisasinya.
Berabagai cara untuk memilih calon pimpinan dapat dilakukan, seperti dengan memberi kesempatan untuk melakukan hal-hal kecil di tingkat yang lebih rendah, kemudian diberi kesempatan untuk yang lebih luas dan lebih kompleks. “Aturan main” harus dipegang teguh dalam rangka pembentukan kader pemimpin. Jangan mengadakan ‘dropping’ jika ingin memperoleh pimpinan sejati.

Penjelasan titik 5 Bab I
Dalam organisasi yang baik, suasana keterbukaan/demokratis harus diciptakan, dimana setiap anggota/bawahan dapat menyampaikan wawasan/gagasan.
Caranyapun dapat mengambil berbagai bentuk seperti tatap muka, kotak pos, atau pembentukan “think-tank” untuk menggodok berbagai wawasan/gagasan. Ciptakan suasana “berani bicara” dalam suatu rapat atau munas sekalipun. Dapat juga dalam bentuk questionnaire. Hal-hal tersebut sangat bermanfaat karena sesungguhnya merupakan masukan dari bawah yang mungkin dapat dipergunakan untuk menyusun kebijaksanaan (policy) yang lebih efektif untuk mencapai tujuan. Tetapi hal tersebut tidaklah berarti bahwa seseorang/sekelompok orang yang menduduki jabatan pimpinan tidak boleh membuat program kerja sebelum mendapat masukan dari anggota/bawahannya. Bisa saja disusun segala hal yang mencakup sebuah organisasi terlebih dahulu, karena bisa saja pimpinan secara intuitif merasakan kebutuhan organisasi dan anggota/bawahannya. 

BAB II MENCIPTAKAN KEBERSAMAAN
Organisasi yang berhasil adalah yang dapat menciptakan rasa kebersamaan (sense of belonging) dari semua orang yang tergabung dalam organisasinya. Mulai dari pimpinan sampai ke semua orang di berbagai divisi/departemen. Bukankah hasil organisasi adalah hasil kerja semua tim ?
Oleh karena itulah, menciptakan rasa kebersamaan itu penting. Bagaimana caranya? Hal itu bisa didahului dengan pencegahan perpecahan yang menghapuskan/menipiskan rasa kebersamaan. Untuk mencegah hal itu diperlukan adanya:
  1. Pimpinan yang lentur (fleksibel) tetapi tegas pada saat ketegasan diperlukan.
  2. Pembagian kerja (job description) yang jelas sejak awal, tanpa menghilangkan keterbukaan untuk berkreasi.
  3. Program kerja yang jelas tetapi lentur/fleksibel terhadap perkembangan yang membawa perubahan.
  4. Setiap Pimpinan Bagian/Divisi/Departemen dsb memberi perhatian yang manusiawi kepada bawahannya.
Penjelasan :
Titik 1
Seorang pemimpin yang berhasil harus memilki dua sifat sekaligus, yaitu kualitas sebagai DIPLOMAT dan JENDRAL, yang keduanya dapat dipelajari, dilatih dan dikembangkan oleh siapa saja (Baca tulisan saya tentang “Memimpin Rapat” dan “Teknik Berunding”).
Sifat Diplomat dilaksanakan pada saat-saat tidak diperlukan ketegasan dan sifat Jendral dipergunakan pada saat memang harus tegas dan tidak bisa lain.
Titik 2
Pembagian kerja yang jelas sejak awal tanpa menghilangkan kebebasan berpendapat adalah sangat penting untuk menjaga keutuhan bawahan/anggota sebuah organisasi apapun juga.
Setiap divisi sejak awal sudah diberikan secara tertulis perihal tugas, wewenang, dan kepada siapa dia harus bertanggung jawab. Usahakan jangan sampai ada yang tumpah tindih (overlapping) mengenai hal tersebut demi mencegah keruwetan di lapangan dan mengevaluasi hasilnya serta memberi penghargaan kepada orang-orang yang memimpin setiap bagian. Sekalipun sudah ditetapkan bagiannya masing-masing, orang/pejabat boleh ikut menyumbangkan wawasan/gagasannya untuk perbaikan bagian lainnya. Hal ini juga penting bagi Pipmpinan Eselon tertinggi untuk mengadakan mutasi jabatan sesuai dengan gagasan/wawasan orang tersebut di kemudian hari (untuk memilih “the right man on the right place”), lihat Bab tentang “Memimpin Rapat dan Teknik Berunding”.
Titik 3
Dalam era globalisasi, sebuah program kerja perlu didukung oleh fleksibilitas, sehingga jika muncul perubahan yang besar (akibat derasnya arus globalisasi), program kerja itu dapat disesuaikan dengan perkembangan. Salah satu caranya adalah dengan mempersiapkan berbagai alternatif. Jika terjadi perubahan mendadak, alternatif itu dapat dijalankan.
Program kerja itu harus tegas sejak awal, sebagai target yang ingin dicapai. Dan penyusunan program kerja harus memperhatikan potensi yang ada dalam pelaksanaannya. Potensi yang perlu diperhitungkan adalah :
Sumber daya manusia yang sesuai untuk setiap jabatan dan dana yang cukup untuk jangka waktu sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai, baik dari sumber sendiri maupun dari pihak luar. Selain itu juga diperlukan persiapan lokasi tempat or itu, serta peralatan yang cukup untuk memulai pelaksanaan program kerja.
Titik 4
Pimpinan tertinggi beserta semua Pimpinan bagian harus memberi perhatian yang manusiawi kepada bawahannya untuk menciptakan kebersamaan dan menjaga keutuhan tim. Yang harus diciptakan/diusahakan bukanlah hanya “industrial relation” atau hanya “organizational relation”, tetapi juga yang sangat penting adalah “human relation”.
Dalam prakteknya hubungan manusiawi itu mengambil bentuk (sebagai contoh) : pertemuan (tiga) bulanan dengan acara a.l. : pimpinan menanyakan keluhan bawahan/anggotanya yang bersifat pribadi, kebutuhan keluarga dipenuhi jika or memang mampu untuk membantu ( di bidang kesehatan dan pendidikan); setiap tutup tahun diadakan semacam “Family Day” seperti tradisi Lions Club. Juga memberikan penghargaan merupakan tradisi yang baik untuk menjaga kebersamaan, asalkan memenuhi kriteria untuk mendapat penghargaan (merit system). Jangan sembarang memberi penghargaan karena akibatnya dapat ditertawakan orang banyak dan dapat menimbulkan iri hati atau cemohan yang tidak perlu terjadi, yang akhirnya dapat menimbulkan perpecahan.

BAB III MEMIMPIN RAPAT
Sebelum anda memimpin rapat, perlu disiapkan adanya:
  • Agenda rapat yang jelas;
  • Hari, tempat dan jam rapat;
  • Undangan rapat dua minggu sebelumnya (minimal satu minggu sebelumnya);
  • Persiapan ruangan dan tempat duduk yang baik/santai serta konsumsi yang cukup;
  • Sound system yang baik.
Persiapan memimpin rapat :
  1. Mengadakan checking dan rechecking 5 (A s/d E di atas)
  2. Menguasai masalah agenda rapat
  3. Menguasai kebiasaan-kebiasaan rapat (AD dan ART or).
  4. Menguasai teknik memimpin rapat.
PENJELASAN

Titik I
sudah cukup jelas.

Titik 2
Menguasai agenda rapat berarti anda menguasai segala aspek permasalahan materi rapat. Apa yang ingin dicapai? Apakah ada faktor penghambat atau ada juga faktor yang menguntungkan? Mana cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan , mengatasi masalah ? Siapa saja yang perlu diminta untuk membahas materi rapat, sebelum pimpinan rapat membuka kesempatan untuk yang hadir guna melontarkan gagasannya masing-masing ?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sebaiknya dikuasai pemimpin rapat sebelumnya. Dengan kata lain, pemimpin rapat perlu mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi di dalam rapat yang sebenarnya

Titik 3
Menguasai kebiasaan rapat sesungguhnya bermuara pada penguasaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.
Disamping itu, diperlukan penguasaan teknik rapat serta peraturan dalam sebuah rapat. Hal ini akan kelihatan jelas pada waktu kita membicarakan “Teknik Memimpin Rapat”.

Titik 4
Hasil rapat dapat memperkuat atau memperlemah organisasi. Oleh karena itu, kita berusaha agar rapat dapat berhasil baik, dengan cara menguasai teknik memimpin rapat yang baik pula sbb :
Untuk mempermudah para pembaca tulisan ini, saya buatkan skenario rapat sbb:
  1. Saya mengadakan checking apakah undangan dan persiapan rapat seperti A s/d E sudah siap betul.
  2. Sekalipun saya sudah mempelajari materi agenda rapat, saya masih mengulang sekali lagi untuk meneliti materinya serta kemungkinan reaksi dari hadirin. Mungkin saya sudah mengetahui lebih dulu siap yang pro dan yang kontra, sehingga saya dapat mempersiapkan taktik dan strategi rapat. Mengenai hal ini, bacalah mengenai Teknik Berunding, karena sangat mirip.
  3. Saya ketahui dari AD dan ART, hak-hak para hadirin yang terdiri dari Anggota Kehormatan, Anggota Luar Biasa dan Anggota Biasa atau Dewan Komisaris. Dewan Direksi maupun Pemegang Saham Prioritas dan Pemegang Saham Biasa serta para pejabat Eselon yang lebih rendah jika mereka diundang untuk ikut rapat. Saya mengetahui anggota yang punya hak bicara dan hak pilih serta yang hanya mempunyai hak bicara saja, tetapi tidak memiliki hak untuk memilih dan dipilih.
  4. Pada waktu pembukaan rapat, saya akan menyampaikan:



    • Membuka rapat dengan resmi dan terima kasih kepada semua hadirin atas kehadirannya
    • Membacakan materi agenda rapat dan tata tertib rapat
    • Menjelaskan apa yang ingin dicapai, yang merupakan hambatan dan yang ingin dijadikan faktor penentu. Semua hal itu untuk kebaikan organisasi dan kebaikan anggota/bawahan. Hal ini sangat perlu guna mengarahkan pembicaraan selanjutnya dalam rapat.
    • Saya katakan bahwa pembahasan materi ini terdiri dari 2 sesi atau “floor” dan mempersilahkan para hadirin untuk mendaftarkan diri bagi yang ingin menyampaikan pendapat pada floor pertama. Kemudian satu per satu dipersilahkan berbicara. Nah, pimpinan rapat harus jeli/tajam mendengarkan pendapat pembicara yang ‘menguntungkan’, maka saya sebagai pimpinan rapat akan mengatakan: “Ya, itu betul, memang sepatutnya begitu”. Jika pendapatnya ‘merugikan’ maka saya akan katakan “Ya, pendapat saudara memang patut dikemukakan sebagai bahan perbandingan dengan pendapat hadirin lainnya. Mungkin bisa lebih disempurnakan”. Pokoknya pendapat yang menguntungkan saya katakan ‘baik’ dan yang merugikan saya arahkan ‘mengambang’. Toh nanti ada pendapat lainnya.
    • Saya sebagai pimpinan rapat akan membuat resume dari semua pendapat dalam floor pertama dengan cara merumuskannya mengarah pada keinginan saya mencapai sasaran materi yang disidangkan. Lalu saya akan menanyakan floor, apakah masih diperlukan floor kedua . Kalau dikehendaki, saya lanjutkan dengan membuka kesempatan untuk para hadirin dengan mendahulukan yang belum kebagian bicara dalam floor pertama, dengan alasan kemungkinan ada ide-ide lain yang belum dinyatakan dalam rapat. Setelah selesai, semua pembicara dalam floor ke dua, saya membuat resume lagi. Kemudian saya ‘tawarkan’ untuk disetujui secara aklamasi (kalau menguntungkan). Jika floor tidak menyetujui dengan cara aklamasi, maka diadakan voting. Kemudian saya merumuskan rancangan keputusan sidang, untuk kemudian disahkan menjadi keputusan rapat.
Di dalam sebuah rapat akan kita temui berbagai macam tipe manusia sbb:
  1. Yang punya gagasan, tetapi tidak berani menyampaikannya di dalam rapat.
  2. Yang punya gagasan dan berani menyampaikannya. Kategori ini dapat dibagi lagi menjadi :
    a. yang selalu menentang pendapat orang lain;
    b. yang realistik sehingga dapat menerima pendapat orang lain asal lebih baik dari pendapatnya;
    c. yang menonjolkan dirinya tanpa menguasai materi yang sedang dibahas;
    d. yang diam saja sekalipun punya gagasan; hanya disampaikan di luar sidang (ump. waktu istirahat).

Kalau sidang istirahat dan belum mengambil keputusan , maka saya akan menghubungi tipe2 d tsb. (ump. saudara A). Jika ada gagasan yang menguntungkan dari orang tersebut, maka dalam kelanjutan sidang akan saya katakan “Saudara A mempunyai gagasan sbb:…. Dan gagasan itu sekarang saya sampaikan kepada floor untuk menjadi bahan pengambil keputusan kita bersama”.

Demikian juga jawaban/komentar saya terhadap pendapat tipe 2 c.

Menghadapi orang yang biasanya suka menentang, sebagai pimpinan rapat, saya akan mengatakan : “Pendapat anda saya serahkan kepada floor untuk dibahas atau tidak dibahas lebih lanjut”. Dengan kalimat semacam itu, sesungguhnya saya mengarahkan floor untuk tidak membahas lebih lanjut.

Hal-hal mengenai rapat ini sangat berkaitan dengan “Teknik Berunding”. Oleh karena itu saya menganjurkan Anda mempelajari dan mempraktekkan “Teknik Berunding” di tulisan saya berikutnya.

Selasa, 29 Juni 2010

Hai teman" disini saya mau sedikit menjelaskan tentang Pemimpin dan Kepemimpinannya baca dan kasih koment ya !!! Trimss ....

PEMIMPIN

Pemimpin (Boss, Ketua, Presiden, Manager, Owner,dsb), hanya sebutan untuk orang yang berkuasa. Dibalik kekuasaannya ada 2 hal yang paling pokok dan sangat mempengaruhi sifat dan mekanisme kepemimpinannya.
Siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin, adalah simulasi kehidupan. Pernahkah anda mengingat siapa pemimpin yang paling berkuasa sekarang ini. Manusia tidak akan bisa menalar, kemana dia berjalan setiap waktu, dan siapa yang memimpinnya untuk melakukan hal itu.
"Seseorang bisa memimpin banyak orang tetapi tidak bisa mengatur (kehidupan) banyak orang". Waktu dan perjalanan akan memimpin di barisan depan pengikutnya adalah perbuatan dan sikap.


Pemimpin cenderung melakukan beberapa hal di bawah ini :

Authoring (memerintah)

Pandangan Umum : Memerintah adalah hal yang paling mudah diucapkan, tetapi terkadang sulit untuk dilakukan dengan sendirinya oleh seorang pemimpin.
Faktor :
  • Ketidak mampuannya dalam memimpin (perusahaan, organisasi, dll)
  • Pemimpin yang malas (anak buah seperti robot yang dapat diperintah sesukanya)
  • Psikologis pemimpin (gangguan mental, lemah berfikir, dsb)
  • Pemimpin yang tidak bisa menghadapi kenyataan, berfikir satu jalur, berjalan diatas satu tali, dengan kesombongan yang besar tidak ragu jika suatu saat jatuh ke jurang
  • Pemimpin yang takut kenyataan

Ownering (merasa memiliki)

Pandangan Umum: Pemimpin yang mempunyai sendiri suatu perusahaan (semua modal miliknya) berhak mengakui bahwa semua modal adalah miliknya "that's all", tetapi tidak berhak pemimpin tersebut merasa memiliki anak buahnya, apalagi sampai merasa memiliki kehidupan mereka
Faktor:
  • Kesombongan adalah penyebab utama
  • Keinginan untuk dipuja, disembah, diagungkan (only god)
  • Gangguan mental dan psikologis

Untuk memuluskan niat dan keinginannya, terkadang seorang pemimpin akan melakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. Menjanjikan gaji yang besar
  2. Menjanjikan bonus yang berlipat ganda
  3. Mengajak bersenang-senang, satu orang yang ditarget
  4. Berbicara sopan, halus, menghanyutkan.


Bagaimana Harus Menjadi Pemimpin Yang Baik??

Menjadi seorang pemimpin harus bisa menjadi panutan bagi semua orang,ini ada beberapa karakter seorang pemimpin/seorang pemenang...

10 Karakter Pemimpin/seorang pemenang & 10 Karakter Bukan pemimpin/seorang pecundang.

  1. Ketika pemimpin melakukan kesalahan dia berkata "saya salah!"
  2. Ketika bukan pemimpin melakukan kesalahan dia berkata, "ini bukan salah saya!"
  3. Pemimpin berkata," saya sudah baik, tapi saya bisa lebih baik lagi!" bukan pemimpin berkata ," saya tidak sejelek orang lain!".
  4. Pemimpin mencoba belajar dari setiap orang yang lebih baik dari pada dia.Bukan pemimpin selalu mencoba menjatuhkan orang lain.
  5. Pemimpin berkata," Mari saya kerjakan ini untuk Anda!" bukan pemimpin berkata, " Itu bukan pekerjaan saya!".
  6. Pemimpin berkata, " Pasti ada cara lebih baik mengerjakannya!" bukan pemimpin berkata," Begitulah biasanya dikerjakan disini!"
  7. Pemimpin berkata, "ini sulit tapi mungkin!" bukan pemimpin berkata."ini mungkin tapi sangat sulit untuk mengerjakan!".
  8. Pemimpin selalu mempunyai rencana. bukan pemimpin selalu cari alasan. pemimpin mempunyai komitmen-komitmen bukan pemimpin hanya berjanji-janji saja.
  9. Pemimpin selalu menjadi bagian dari jawaban bukan pemimpin selalu menjadi bagian dari masalah.
  10. Pemimpin tuntas memecahkan masalah.bukan pemimpin selalu tanggung-tanggung & tidak pernah memecahkan masalah.

Pemimpin Ideal adalah Pemimpin yang dapat berkomunikasi secara efektif dalam situasi apapun dan bijaksana. Pemimpin yang dapat BERKOMUNIKASI SECARA EFEKTIF adalah:
  1. Memberikan informasi yang update kepada seluruh bawahan dan koleganya secara terus-menerus, fakta yang terjadi di lapangan.
  2. Secara proaktif meminta umpan balik dari bawahan.
  3. Memastikan adanya tindak lanjut atas masalah yang terjadi dalam suatu organisasi.
  4. Selalu mengupdate informasi yang dimiliki berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan.

TIPE PEMIMPIN BIJAKSANA:
  • Memiliki rasa percaya diri dan dapat mengatakan bisa pada diri sendiri untuk dapat menyelesaikan suatu masalah.
  • Sensitif terhadap perasaan/emosi pihak lain/anak buah.
  • Dapat menyelesaikan masalah dengan cepat yang menjadi tanggungjawabnya dan terbiasa mendisiplinkan diri untuk mencari solusi setiap masalah dan bersikap action oriented.
  • Berpikir kedepan dan selalu berpikir contigency plan yaitu selalu mengembangan pikiran dalam beberapa skenario untuk mengantisipasi kondisi yang akan terjadi, disini anda akan lebih terlihat powerful.
  • Pikirkan selalu kenyamanan anggota organisasi dalam bekerja.

PEMIMPIN YANG BIJAKSANA TIDAK DISARANKAN:
  1. Menutup-nutupi permasalahan, berbohong atau mengatakan sesuatu yang sifatnya misleading. Walau sebagai pemimpin, harus menyimpan hal-hal yang bersifat cinfidential, namun hal-hal yang sifatnya terkaitn dengan keamanan, kesejahteraan harus disampaikan secara terbuka.
  2. Menjanjikan sesuatu yang belum ada kejelasannya untuk direalisasikan.
  3. Menyalahkan pihak lain atau mencari kambing hitam atas terjadinya masalah.




KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukanya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang senima ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.


Tips Kepemimpinan kali ini fokus kepada soft skill dari masing-masing SDM dalam organinsasi. Hati-hati bagi anda yang memiliki rekanan kerja / sahabat / teman / atau apapun posisinya yang memiliki sifat yang menurut anda “kurang baik” meskipun “teman nakal” anda tersebut tidak secara langsung merugikan anda.



KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF


Barangkali pandangan pesimistis tentang keahlian-keahlian kepemimpinan ini telah menyebabkan munculnya ratusan buku yang membahas kepemimpinan. Terdapat nasehat tentang siapa yang harus ditiru (Attila the Hun), apa yang harus diraih (kedamaian jiwa), apa yang harus dipelajari (kegagalan), apa yang harus diperjuangkan (karisma), perlu tidaknya pendelegasian (kadang-kadang), perlu tidaknya berkolaborasi (mungkin), pemimpin-pemimpin rahasia Amerika (wanita), kualitas-kualitas pribadi dari kepemimpinan (integritas), bagaimana meraih kredibilitas (bisa dipercaya), bagaimana menjadi pemimipin yang otentik (temukan pemimpin dalam diri anda), dan sembilan hukum alam kepemimpinan (jangan tanya). Terdapat lebih dari 3000 buku yang judulnya mengandung kata pemimipin (leader). Bagaimana menjadi pemimpin yang efektif tidak perlu diulas oleh sebuah buku. Guru manajeman terkenal, Peter Drucker, menjawabnya hanya dengan beberapa kalimat: "pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah berpikir berdasar misi organisasi, mendefinisikannya dan menegakkannya, secara jelas dan nyata.


KEPEMIMPINAN KHARISMATIK

Max Weber, seorang sosiolog, adalah ilmuan pertama yang membahas kepemimpinan karismatik. Lebih dari seabad yang lalu, ia mendefinisikan karisma (yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti "anugerah") sebagai "suatu sifat tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super, atau paling tidak daya-daya istimewa. Kemampuan-kemampuan ini tidak dimiliki oleh orang biasa, tetapi dianggap sebagai kekuatan yang bersumber dari yang Ilahi, dan berdasarkan hal ini seseorang kemudian dianggap sebagai seorang pemimpin.



Seperti itulah penjelasan Pemimimpin dan Kepemimpinannya menurut perkiraan saya ... Semoga dapat berguna bagi teman" semua ...

AddThis

Share |